Kisah dan hikmah
MAKANAN ORANG PEMURAH ADALAH OBAT
Mendengar puterinya itu,Imam Ahmad terkejut. Kemudian beliau berkata kepada puterinya: “anakku,ia benar seorang yang alim. Mengapa engkau berkata demekian??”.
Kata anaknya: “Aku perhatikan ada tiga hal kekurangannya. Pertama, pada waktu disajikan makanan, beliau makannya lahap benar. Kedua , sejak masuk kekamarnya beliau tidak shalat malam dan baru keluar dari kamarnya setelah tiba shalat subuh. Ketiga, beliau shalat subuh dengan kita tanpa wudhu”.
Sejenak Imam Ahmad merenungkan perkataan anaknya. Maka, untuk mengatahui lebih jelasnya dia menyampaikan pengamatan puterinya itu untuk ditanyakan langsung pada Imam Asy-Syafi’i .
Mendengar pengaduan dari puteri Imam Ahmad, Imam Asy-Syafi’i tersenyum. Kemudian beliau berkata : “Ya, Ahmad, ketahuilah , aku banyak makan dirumahmu karena aku tahu makanan yang ada dirumahmu jelas halal dan thayib. Aku tidak meragukan sama sekali. Karena itulah aku makan dengan tenang dan lahap. Lagipula aku tahu engkau seorang pemurah.
Makanan orang pemurah itu adalah obat, dan makanan orang kikir adalah penyakit. Aku makan semalam bukan karena agar kenyang, akan tetapi untuk berobat dengan makan itu.
Sedangkan mengapa aku semalam tidak shalat malam, karena ketika aku meletakan kepelaku di atas bantal untuk tidur,tiba-tiba, seakan-seakan aku melihat dihadapanku kitab Allah dan sunnah Rasul-nya. Dan dengan izin Allah malam itu aku dapat menyusun 72 masalah ilmu fiqih islam, sehingga aku tidak sempat shalat malam. Sedangkan kenapa aku tidak wudhu’lagi ketika shalat subuh, karena aku pada malam itu tidak dapat tidur sekejap pun. Aku semalam tidak tidur sehingga aku shalat subuh dengan wudhu shalat Isya’.
(fauzy)
GLOBALISASI JANGAN SAMPAI MENDANGKALKAN
FUNGSI KELUARGA
Didalam konteks GBHN 1993 secara tegas memberi pengarahan yang berbunyi “pembangunan keluarga sejahtera diarahkan kepada terwujudnya kehidupan keluarga sebagai wahana persamaian nilai-nalai agama dan nilai-nalai luhur budaya bangsa guna meningkatkan kesejahteraan keluarga dan membina ketahanan keluarga agar mampu mendukung kegiatan pembangunan…”
Dewasa ini kita menghadapi masa depan yang penuh tantangan baik berupa krisis yang selalu berkelanjuatan yang juga bertepatan dengan abad 21 yang merupakan era dunia tanpa batas (boderless world) . pada abad ini kita perlu mempersiapkan ketahanan keluarga, yang menjadi benteng penangkal dan penyeleksi arus negatif budaya asing yang dapat melemahkan dan bahkan menghancurkan kepribadian bangsa
Dalam kondisi era globalisasi bangsa ini harus mempertinggi kepedulian untuk membendung sinyal-sinyal yang melemahkan ketehanan keluarga,memudarnya semangat kekeluargaan dan menipisnya kekerabaran masyarakat.yang cepat atau lambat dapat menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan kebangsaan.
Pada 100 tahun kebangkitan nasional ini mari kita jalankan visi dan strategi pembangunan nasional tentang keluarga baik berupa “material wefare” pendekatan kesejahteraan secara material dan “spiritual welfare” kesejahteraan secara spiritual. Dari kedua visi dan strategi itu tak di pisahkan karena saling berkaitan erat...
Keluarga sebagai tiang kesejahteraan social dan benteng ketahanan masyarakat perlu terus dibina dan diperkuat dalam seluruh aspeknya. Berbagai upaya eksternal telah dilakukan pemerintah termasuk melalui “crash program”. Akan tetapi, yang terpenting hal itu mestilah ditunjang oleh internal keluarga itu sendiri.
Malahan ajaran dan tuntutan islam mewajibkan kita memberi perhatian secara khusus terhadap masalah pembinaan dan penguatan fungsi keluarga yang islami. Ibu dan Bapak di amanahi untuk selalu menjalankan tugas sucinya kapan dan dimanapun dalam mendidik anak-anaknya. Baik dalam pendidikan agama,maupun pendidkan lainnya.
Dr. Musthafa Ash Sibba’ie di dalam bukunya “Akhlaquna al-Ijtimaiyah” menyatakan kerisauannya selaku seorang intelektual terhadap penomena yang berkembang dikalangan umat islam, “mungkin problem masyarakat kita yang paling penting sekarang ini adalah pendidikan anak-anak didalam keluarga.
Sebelum anak dididik disekolah atau masyarakat, maka keluarga adalah pendidikan yang utama. Sangatlah disayangkan kebanyakan kita tidak lagi memberikan pendidikan itu. Yang mana orang tua hanya sibuk mencari kekayaan material semata. Mengakibatkan anak-anaknya (laki-laki atau perempuan) sebagai korban dari pendidikan dan kasih sayang yang kurang dari keluarganya menjadi anak-anak penakut,lemah kemauan, kegoncangan pikiran. Dari problem itu juga akan muncul anak-anak nakal yang suka mengacau,anak-anak yang tinggi hati dan sn suka berpoya-poya,berpikiran salah terhadap agama, dan masih banyak lagi akibat lainnya.
Maka pada saat ini sekaligus ikut dalam memperingati seratus tahun kebangkitan nasional pengharapan dan upaya yang disandarkan pada keluarga dan semangat kekeluargaan yang masih kita miliki dan banggakan. Keluarga adalah sentral perbaikan masyarakat dan karena itu merupakan kesalahan yang paling fatal apabila proses globalisasi sampai mendangkalkan fungsi keluarga sebagai wahana persamaian nilai pendidikan,nilai social dan agamis
Wasalamuallaikum,wr.wb


Tidak ada komentar:
Posting Komentar