Pekerjaanku adalah seorang penolak rakit di tepi sungai, yakni aku memindahkan penumpang dari satu tebing sungai ke tebingnya yang lain. Hal itu sudah ku lakukan sejak bertahun-tahun lamanya.Begitu pagi mula muncul, aku segera pergi ke tempat rakitku untuk berkerja, sambil menunggu waktu Zohor, aku pun duduk termangu-mangu dan hatiku bredebar-debar. Tiba-tiba aku terlena dan terus tertidur, dan baru bangun ketika waktu menjelang Asar. Aku teringat akan janjiku kepada orang tua itu, dan aku cepat-cepat menuju ke bawah pohon yang ditunjukkan kepadaku semalam, dan ternyata benar lelaki itu telah meninggal dunia di
"Inna Lillaahi Wa Innaa Illaihi Raji'uun!" lisanku mengucap.
Aku pun segera menyelenggarakan mayatnya, memandikannya lalu membungkusnya dengan kain yang diletakkan di bawah kepalanya yang baunya sangat harum sekali. Kemudiaan mensholatinya dan menggali kubur di bawah pohon, dan ternyata di
Hari itu, aku terpaksa bekerja sampai pagi untuk menggantikan waktu aku gunakan untuk menyelenggarakan penguburan mayat lelaki tua tadi. Apabila menjelang fajar, datanglah seorang pemuda kepadaku seraya memandangku dengan pandangan yang tajam sekali. Setelah aku menggamat-amatinya, aku mengenalinya. Ia adalah seorang pemuda yang biasa bermain sandiwara, dan biasa menyanyi dan menari. Ia memakai baju yang tipis, sementara jari-jarinya penuh dengan pacar.
Pemuda itu mendekatiku seraya memberi salam. Aku membalas salamnya. Ia bertanya:
"Benarkah tuan ini fulan bin fulan?" aku heran bagaimana dia tahu namaku.
"Betul," jawabku.
"Jika demikiaan, di manakah amanat itu?"
"Amanat apa?" tanyaku kembali.
"Sebuah bungkusan dan sebilah tongkat," pemuda itu memberitahuku.
"Siapakah yang memberitahukan hal itu kepadamu?"
"Aku sendiri tidak mengerti," jawabnya, "tapi tadi malam aku sedang di rumah teman untuk maramaikan pesta perkahwinan. Aku menari-nari serta menyanyi sampai jauh malam dan aku pun tidur di
Aku benar-benar keheranan mendengar penunturan pemuda itu, dan aku pun menyerahkan kedua amanah itu kepadanya. Ia menerimanya lalu menanggalkan pakaiaan yang di atas badan, kemudian mandi dan berwudhu, lalu membuka bungkusan itu yang ternyata di dalamnya ada sepasang pakaiaan, lalu memakainya, dan memegang tongkat Kemudian dia datang kepadaku seraya berkata:
"Terima kasih kerana sanggup menjaga amanah ini, semoga Tuhan saja yang membalasmu!"
Kemudian pemuda itu pergi meninggalkanku. Ke mana dia pergi, aku pun tidak tahu.
Di sepajang-panjang hari itu, aku terus memikirkan tentang pemuda itu, dan bagaimana dia dengan kehidupannya yang lalai dan sia-sia boleh menerima amanat wali yang mati itu. Bila aku merasa penat, aku pun tidur. Dalam tidurku itu aku mendengar suatu suara yang mengatakan:
"Wahai hamba Allah! Apakah engkau keberatan jika Allah berkenan melimpahkan kurniaNya kepada hambaNya yang selalu membuat durhaka kepadaNya? Ketahuilah, bahawa Allah berhak penuh untuk memberikan kelebihanNya kepada sesiapapun, takdirNya adalah menurut iradatNya!"
Pada masa itulah, aku terkejut dari tidurku, lalu menangis sejadi-jadinya. Dalam menangis itu aku memohon:
"Ya Allah! Berilah hambaMu ini rahmat dan belas kasihanMu! Berilah pertolongan untuk berbakti kepadaMu, bersyukur atas segala nikmatMu, dan bersabar atas segala cobaanMu! Amin!" Amin!


2 komentar:
subhanallah,, bagus bgt critanya,,
ttg seorang sederhana yg menjalankan amanat org dgn baik,namun merasa kalau hal itu sia``,,
pdhl Allah tdk menjadikan sesuatu dgn sia`` meski hanya menciptakan seekor nyamuk,,smua yg diciptakan Allah itu pasti ada mknanya,,dan ada maksud dibalik itu semua,,
semoga kita tidak akan lalai dlm menjalankan amanat,,
ameen,,
cerita yg sarat makna,, semoga kita dapat mengambil pelajaran,, bahwasanya sebuah amanat haruslah dijaga dan dijalankan dgn hati yg ikhlas,,
Posting Komentar